Siang itu ibu meneleponku. Telepon biasa saja, namun tiba-tiba ibu menyampaikan berita tak mengenakan. Dia bilang ayah akan bercerai lagi. Bercerai untuk kedua kalinya.
Apa-apaan dia? Tak cukupkah satu kegagalan dalam rumah tangganya? Apa pernah dia pikirkan nasib anak-anak hasil perceraiannya itu? Gila! Tak waras betul dia. Aku sungguh tak mengerti jalan pikirannya.
Bertahun lalu ia sudah meninggalkan keluarganya, ibuku, aku, dan seorang adik perempuan. Ibu tak mau melepaskannya dengan surat cerai hingga aku dan adikku lulus kuliah. Ibu ingin ia bertanggung jawab sebagai seorang ayah yang baik. Ibu selalu mengawasi keuangannya agar uang sekolah kami tak telat dibayar. Ibu memaksanya untuk selalu mengirimkan uang bulanan kami tepat waktu.
Ketika aku dan adikku lulus kuliah, ibu langsung berputar otak, mencari segala cara agar bisa membebaskan kami dari dia. Ibu menyelamatkan beberapa harta benda agar bisa kami gunakan kala dia meninggalkan kami. Ibu tak ingin kami hidup dalam keterpurukan ketika mereka bercerai. Ibu tak mau hasil kerja kerasnya diakui sebagai milik ayah, lalu diperebutkan oleh istri mudanya. Ibu memikirkan nasib kani setelah ditinggalkan ayah.
Tak lama kemudian ibu mengabarkan mereka akan bercerai. Proses itu sedang berlangsung. Semua kerabat mencoba mencegah proses itu, ibu mengabaikannya. Ibu tetap dengan keputusannya.
Tak ada seorang pun yang tahu bahwa sudah bertahun-tahun ibu tak tidur seranjang dengannya. Tak ada yang tahu bertahun-tahun ibu tak bertegur sapa lagi dengan ayah. Tak ada satu orang pun yang tahu ibu tak pernah bertemu ayah. Tak ada seorang pun yang tahu mereka berhubungan sebatas uang kiriman untukku dan adik. Tak ada yang tahu ayah sudah memiliki keluarga lain.
Ku tutup mata dan telingaku, aku tak ingin melihat maupun mendengar orang-orang itu menjelek-jelekan ibu. Mereka tak mengenal ibu sebaik aku. Aku tak melihat ada jalan keluar lain dari masalah ini. Ibu sudah bertahan cukup lama dengan ayah.
Lalu setelah perceraian itu ayah tinggal dengan istri mudanya, istri yang sudah memberikan dua orang anak padanya. Aku tak mau perduli lagi padanya, sama seperti dia yang tak mau perduli lagi padaku. Aku menghilang dari hadapannya perlahan-lahan. Aku tak mau menghubunginya lagi.
Dan kini, setelah enam tahun berlalu, kembali aku dengar berita menyedihkan itu. Cerita perih itu kembali diulangnya, hanya saja kali ini pada keluarga yang berbeda. Entah bagaimana nasib dua orang anak yang masih kecil-kecil dari istri mudanya.
Kali ini aku muak mendengar semua cerita tentangnya. Terlepas dari semua yang telah ia lakukan untukku, aku hanya akan mengakuinya sebagai ayahku. Tak lebih, tak kurang.
Aku tak ingin menjadi seperti dia, pecundang. Aku tak ingin keluarga yang hancur seperti yang pernah ia buat untuk kami.
Malam ini kembali aku berdoa pada Sang Pemberi Nyawa, mohon jadikan aku seorang suami dan ayah yang baik bagi keluargaku. Amin...
Hanya coretan tak berarti... Hanya cacian tak bermakna... Hanya gundah tak beralasan... Hanya langkah yang terhenti...
Thursday, November 17, 2011
Cerpen 6 - Orang Gila Itu Ayahku
"Brengsek kau! Lebih baik aku tak dilahirkan daripada memiliki ayah seperti kau! Dasar sialan!"
Brak!!
Pintu rumah itu kubanting.
Tak bisa kupercaya, aku memiliki ayah macam dia. Ayah tak berguna yang hanya mampu merongrong istri dan keluarganya. Ayah yang tak sanggup kuakui sebagai ayahku. Ayah yang lebih pantas kupanggil sebagai "Orang Gila".
Entah bagaimana cerita awalnya hingga kedua orang tuaku menikah, yang aku tahu ialah semenjak aku lahir mereka sudah sering bertengkar, meneriakan semua isi kebun binatang bersahut-sahutan. Ketika mereka bertengkar aku hanya bisa meringkuk di pojokan kamar sembari menutup telingaku, agar tak kudengar kata-kata jahanam tak berperikemanusiaan itu diteriakan. Kakak perempuanku tak peduli apa yang terjadi di rumah. Dia selalu melarikan diri, bersenang-senang dengan teman-temannya. Hanya aku yang menemani ibuku di rumah bersama bajingan itu. Namun jika ia di rumah, "Orang Gila" tak mampu berkata-kata. Kakak perempuanku bagai singa si raja hutan. Aumannya dapat menggetarkan hati siapa pun yang mendengar. Seisi hutan akan terdiam dan berlari menjauh. Menunggu hingga sang raja hutan kembali tenang. Tak terkecuali "Orang Gila".
Ibu harus bekerja, ia menghidupi aku dan kakak perempuanku. Beruntung aku memiliki seorang paman kaya, konglomerat terpandang, ia membantu ibu mencukupi kebutuhan rumah serta sekolah aku dan kakak perempuanku. Tanpanya mungkin aku dan kakak perempuanku tak akan bisa melanjutkan sekolah. Sedangkan "Orang Gila" itu, dia hanya seorang pemalas yang berkedok broker mobil bekas.
Suatu kali mereka bertengkar, semua kata cacian mereka keluarkan. Seperti biasa aku kembali meringkuk di kamarku. Kakak perempuanku setelah ikut meneriakan isi kebun binatang, pergi keluar rumah, entah kemana. Tak lama, ku dengar ibu berteriak kencang, teriak ketakutan. Aku berlari keluar kamar, ku lihat "Orang Gila" menodongkan pisau dapur ke ibu. Dia mengancamnya. Ibu terkejut, mukanya pucat ketakutan. Aku menarik tangan ibu, ku ajak ia bersembunyi di kamarku. Ketika situasi kelihatan aman, ibu berlari keluar rumah, ia kabur ke rumah paman. "Orang Gila" itu mengejarnya, menjemput paksa dari rumah paman, dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.
Namun esoknya "Orang Gila" kembali menodongkan pisau ke ibu. Kali ini ibu berlari ke kantor polisi. Naas bagi ibu, polisi tak mau mengurusi masalah keluarga tak berduit macam kami. Polisi menyuruhnya pulang ke rumah dan menyelesaikan masalah keluarganya dengan suaminya. Ibu tak berani pulang, ia ketakutan, takut akan suaminya sendiri.
Kali lain aku yang bertengkar dengan "Orang Gila" itu, tak tahan beradu mulut dengannya aku pergi meninggalkan rumah dan ibu. Aku berlari ke rumah paman. Aku bersembunyi disana. Ibu menangis, ia takut aku meninggalkannya. Ia tak berdaya menanggapi "Orang Gila". Ia berharap aku cepat pulang, menemaninya di malam hari. Bersembunyi berdua di kamar kecilku. Aku bertahan di rumah paman, aku tahu aku tak kuasa melawan "Orang Gila". Kakak perempuanku yang perkasa berkata pedas melawannya. Sepotong kalimat tegas dari kakak perempuanku membuat "Orang Gila" terdiam.
Aku pulang ke rumah lagi. Aku takut, takut akan kejadian yang tak ingin kualami lagi. Takut akan hardikan "Orang Gila". Namun dari semua ketakutan itu aku tahu aku harus melindungi ibu, dan aku tahu kakak perempuan ku yang berlagak macam singa sang raja hutan itu melindungi kami. Aku tak tahu sampai kapan ini akan berlangsung, namun aku tak akan lari lagi. Aku akan melawannya!
Brak!!
Pintu rumah itu kubanting.
Tak bisa kupercaya, aku memiliki ayah macam dia. Ayah tak berguna yang hanya mampu merongrong istri dan keluarganya. Ayah yang tak sanggup kuakui sebagai ayahku. Ayah yang lebih pantas kupanggil sebagai "Orang Gila".
Entah bagaimana cerita awalnya hingga kedua orang tuaku menikah, yang aku tahu ialah semenjak aku lahir mereka sudah sering bertengkar, meneriakan semua isi kebun binatang bersahut-sahutan. Ketika mereka bertengkar aku hanya bisa meringkuk di pojokan kamar sembari menutup telingaku, agar tak kudengar kata-kata jahanam tak berperikemanusiaan itu diteriakan. Kakak perempuanku tak peduli apa yang terjadi di rumah. Dia selalu melarikan diri, bersenang-senang dengan teman-temannya. Hanya aku yang menemani ibuku di rumah bersama bajingan itu. Namun jika ia di rumah, "Orang Gila" tak mampu berkata-kata. Kakak perempuanku bagai singa si raja hutan. Aumannya dapat menggetarkan hati siapa pun yang mendengar. Seisi hutan akan terdiam dan berlari menjauh. Menunggu hingga sang raja hutan kembali tenang. Tak terkecuali "Orang Gila".
Ibu harus bekerja, ia menghidupi aku dan kakak perempuanku. Beruntung aku memiliki seorang paman kaya, konglomerat terpandang, ia membantu ibu mencukupi kebutuhan rumah serta sekolah aku dan kakak perempuanku. Tanpanya mungkin aku dan kakak perempuanku tak akan bisa melanjutkan sekolah. Sedangkan "Orang Gila" itu, dia hanya seorang pemalas yang berkedok broker mobil bekas.
Suatu kali mereka bertengkar, semua kata cacian mereka keluarkan. Seperti biasa aku kembali meringkuk di kamarku. Kakak perempuanku setelah ikut meneriakan isi kebun binatang, pergi keluar rumah, entah kemana. Tak lama, ku dengar ibu berteriak kencang, teriak ketakutan. Aku berlari keluar kamar, ku lihat "Orang Gila" menodongkan pisau dapur ke ibu. Dia mengancamnya. Ibu terkejut, mukanya pucat ketakutan. Aku menarik tangan ibu, ku ajak ia bersembunyi di kamarku. Ketika situasi kelihatan aman, ibu berlari keluar rumah, ia kabur ke rumah paman. "Orang Gila" itu mengejarnya, menjemput paksa dari rumah paman, dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.
Namun esoknya "Orang Gila" kembali menodongkan pisau ke ibu. Kali ini ibu berlari ke kantor polisi. Naas bagi ibu, polisi tak mau mengurusi masalah keluarga tak berduit macam kami. Polisi menyuruhnya pulang ke rumah dan menyelesaikan masalah keluarganya dengan suaminya. Ibu tak berani pulang, ia ketakutan, takut akan suaminya sendiri.
Kali lain aku yang bertengkar dengan "Orang Gila" itu, tak tahan beradu mulut dengannya aku pergi meninggalkan rumah dan ibu. Aku berlari ke rumah paman. Aku bersembunyi disana. Ibu menangis, ia takut aku meninggalkannya. Ia tak berdaya menanggapi "Orang Gila". Ia berharap aku cepat pulang, menemaninya di malam hari. Bersembunyi berdua di kamar kecilku. Aku bertahan di rumah paman, aku tahu aku tak kuasa melawan "Orang Gila". Kakak perempuanku yang perkasa berkata pedas melawannya. Sepotong kalimat tegas dari kakak perempuanku membuat "Orang Gila" terdiam.
Aku pulang ke rumah lagi. Aku takut, takut akan kejadian yang tak ingin kualami lagi. Takut akan hardikan "Orang Gila". Namun dari semua ketakutan itu aku tahu aku harus melindungi ibu, dan aku tahu kakak perempuan ku yang berlagak macam singa sang raja hutan itu melindungi kami. Aku tak tahu sampai kapan ini akan berlangsung, namun aku tak akan lari lagi. Aku akan melawannya!
Cerpen 5 - Lamaran
Dia, siang itu aku melihatnya. Dia duduk berhadapan dengan seorang wanita, di sampingnya duduk seorang anak laki-laki berumur sekitar 3 tahun. Wanita di depannya memangku seorang putri kecil yg cantik. Aku terpaku, dia sudah berkeluarga dengan 2 orang putra putri. Air mataku mengalir perlahan.
Lima tahun lalu, aku berteriak mengusirnya keluar dari kamar kostku. Aku tak tahan menjalani masa-masa bersamanya tanpa kejelasan akan lanjutan hubungan ini. Enam tahun bersamanya dan tak sedetik pun dia pernah mengucapkan kalimat yg teramat sangat ingin kudengar, lamaran.
Bertahun aku bersabar menunggu kalimat lamaran itu dia ucapkan. Bertahun aku bersabar menantinya menunjukkan keseriusan akan hubungan ini. Bertahun aku bersabar menghadapi tanggapan dingin kedua orang tuanya padaku. Bertahun aku bersabar menutup telinga saat kedua orang tuaku bertanya kemana hubungan ini kan kami bawa. Bertahun aku bersabar, hingga aku tak tahan lagi.
Kesabaran ku habis, dan tiba-tiba saja emosiku memancak, kemudian tanpa sadar kulontarkan juga pertanyaan tak sabarku padanya. Dan yg membuatku kecewa, dia hanya terdiam. Diam, tak ada sepatah kata pun yg dia gumamkan. Geram. Aku geram dibuatnya. "Keluar kau dari sini. Aku tak ingin melihatmu lagi". Malam itu aku usir dia dari kamar kostku.
Malam berikutnya dia datang kembali, namun tetap tanpa sepotong kalimat penenang yg ingin kudengar. Diam. Kami hanya berdiaman di kamar kostku, sampai larut malam, hanya diam. Begitu terus berhari2.
Aku tak tahan dgn sikapnya. Aku mencari pelarian. Seorang rekan kerja sekantor menarik perhatian ku. Benar-benar perhatian yg memikat. Aku tertarik dengan daya pikatnya. Aku tak sanggup berpaling. Aku selingkuh. Selingkuh terang-terangan di depan matanya. Aku akan buat dia cemburu. Akan kubuat dia menyerah. Akan kupakai segala cara agar dia mau mengucapkan kalimat sakti itu. Lamaran.
Dia tahu aku menyakitinya, namun dia hanya diam saja. Dia tetap berpikir laki-laki itu hanya rekan kerja tanpa maksud terselubung. Dia tak mau mengucapkan kalimat itu. Kalimat yg amat aku tunggu. Aku gila dibuatnya. Aku sungguh tak tahu harus bagaimana lagi memaksanya. Memaksanya mengucapkan kalimat itu. Aku nekat. Aku akan mengeluarkan senjata terakhir ku. Putus.
Satu minggu telah lewat. Aku sudah melontarkan kata putus padanya. Dia masih singgah di kostku. Tak menyerah melepasku. Namun lamaran itu masih tak kudengar dari mulutnya. Setiap dia datang aku tak ingin melihat mukanya. Dia pulang tanpa bisa menjelaskan. Menjelaskan alasannya menunda kalimat itu. Aku kesal. Aku tak mau terima semua alasan omong kosongnya. Alasan yg hanya dibuat-buat.
Lama tak kulihat dirinya, aku rindu sosok diamnya. Lama tak kudengar kabarnya, aku rindu mata teduhnya. Lama tak kudengar suaranya, aku rindu tawanya. Lama, aku rindu padanya.
Aku mencari sosoknya. Aku mencoba menghubungi semua kenalannya. Aku bertanya segala hal tentangnya. Tak kusangka aku akan mendengar cerita itu. Cerita yg seharusnya menjadi ceritaku. Dia akan menikah. Menikah dengan seorg wanita yg baru dikenalnya setahun belakangan. Seorang wanita yg menjadi pelariannya ketika aku selalu menutup pintu kostku kala dia datang dulu. Seorang wanita yg tak pernah ku kenal sebelumnya. Dia akan menikah.
Seorang kenalan bilang betapa bodoh aku dulu. Seorang kenalan bercerita bahwa dia sedang mengumpulkan uang agar ketika menikah kami tak akan mengemis dengan orang tua sehingga orang tuanya yakin dan mengijinkan kami menikah. Sayang waktu itu aku tak sabar dan selalu menuntutnya hingga dia kebingungan. Dia menutup matanya ketika tahu aku memaksanya dengan cara memanfaatkan kebaikan seorang rekan kerja, perselingkuhan yang sebenernya menyakiti hatinya. Tapi dia tahu itu sebenarnya hanya salah satu akal-akalanku saja.
Kalau saja waktu itu aku mau mendengar penjelasannya. Kalau saja waktu itu aku mau membuka telingaku. Kalau saja waktu itu aku mau bersabar sedikit lagi. Kalau saja... Kalimat penyesalan tiada guna.
Dan disinilah aku berdiri sekarang. Menatap dia dan keluarga kecilnya dari kejauhan. Menyesali kebodohanku karena tak sabar menantinya sedikit lagi. Menangisi keputusan yg pernah kubuat. Berdiri terpaku tanpa seorang pendamping disisiku. Perihku melihatnya.
Ah, sudahlah. Lebih baik aku mendoakannya. Semoga dia mendapatkan yg terbaik. Semoga keluarga kecilnya bahagia selalu. Semoga dia tetap mengingatku dan kenangannya bersamaku. Semoga... Semoga aku bisa seperti dia.
Aku berbalik
Selamat tinggal masa lalu ku...
Lima tahun lalu, aku berteriak mengusirnya keluar dari kamar kostku. Aku tak tahan menjalani masa-masa bersamanya tanpa kejelasan akan lanjutan hubungan ini. Enam tahun bersamanya dan tak sedetik pun dia pernah mengucapkan kalimat yg teramat sangat ingin kudengar, lamaran.
Bertahun aku bersabar menunggu kalimat lamaran itu dia ucapkan. Bertahun aku bersabar menantinya menunjukkan keseriusan akan hubungan ini. Bertahun aku bersabar menghadapi tanggapan dingin kedua orang tuanya padaku. Bertahun aku bersabar menutup telinga saat kedua orang tuaku bertanya kemana hubungan ini kan kami bawa. Bertahun aku bersabar, hingga aku tak tahan lagi.
Kesabaran ku habis, dan tiba-tiba saja emosiku memancak, kemudian tanpa sadar kulontarkan juga pertanyaan tak sabarku padanya. Dan yg membuatku kecewa, dia hanya terdiam. Diam, tak ada sepatah kata pun yg dia gumamkan. Geram. Aku geram dibuatnya. "Keluar kau dari sini. Aku tak ingin melihatmu lagi". Malam itu aku usir dia dari kamar kostku.
Malam berikutnya dia datang kembali, namun tetap tanpa sepotong kalimat penenang yg ingin kudengar. Diam. Kami hanya berdiaman di kamar kostku, sampai larut malam, hanya diam. Begitu terus berhari2.
Aku tak tahan dgn sikapnya. Aku mencari pelarian. Seorang rekan kerja sekantor menarik perhatian ku. Benar-benar perhatian yg memikat. Aku tertarik dengan daya pikatnya. Aku tak sanggup berpaling. Aku selingkuh. Selingkuh terang-terangan di depan matanya. Aku akan buat dia cemburu. Akan kubuat dia menyerah. Akan kupakai segala cara agar dia mau mengucapkan kalimat sakti itu. Lamaran.
Dia tahu aku menyakitinya, namun dia hanya diam saja. Dia tetap berpikir laki-laki itu hanya rekan kerja tanpa maksud terselubung. Dia tak mau mengucapkan kalimat itu. Kalimat yg amat aku tunggu. Aku gila dibuatnya. Aku sungguh tak tahu harus bagaimana lagi memaksanya. Memaksanya mengucapkan kalimat itu. Aku nekat. Aku akan mengeluarkan senjata terakhir ku. Putus.
Satu minggu telah lewat. Aku sudah melontarkan kata putus padanya. Dia masih singgah di kostku. Tak menyerah melepasku. Namun lamaran itu masih tak kudengar dari mulutnya. Setiap dia datang aku tak ingin melihat mukanya. Dia pulang tanpa bisa menjelaskan. Menjelaskan alasannya menunda kalimat itu. Aku kesal. Aku tak mau terima semua alasan omong kosongnya. Alasan yg hanya dibuat-buat.
Lama tak kulihat dirinya, aku rindu sosok diamnya. Lama tak kudengar kabarnya, aku rindu mata teduhnya. Lama tak kudengar suaranya, aku rindu tawanya. Lama, aku rindu padanya.
Aku mencari sosoknya. Aku mencoba menghubungi semua kenalannya. Aku bertanya segala hal tentangnya. Tak kusangka aku akan mendengar cerita itu. Cerita yg seharusnya menjadi ceritaku. Dia akan menikah. Menikah dengan seorg wanita yg baru dikenalnya setahun belakangan. Seorang wanita yg menjadi pelariannya ketika aku selalu menutup pintu kostku kala dia datang dulu. Seorang wanita yg tak pernah ku kenal sebelumnya. Dia akan menikah.
Seorang kenalan bilang betapa bodoh aku dulu. Seorang kenalan bercerita bahwa dia sedang mengumpulkan uang agar ketika menikah kami tak akan mengemis dengan orang tua sehingga orang tuanya yakin dan mengijinkan kami menikah. Sayang waktu itu aku tak sabar dan selalu menuntutnya hingga dia kebingungan. Dia menutup matanya ketika tahu aku memaksanya dengan cara memanfaatkan kebaikan seorang rekan kerja, perselingkuhan yang sebenernya menyakiti hatinya. Tapi dia tahu itu sebenarnya hanya salah satu akal-akalanku saja.
Kalau saja waktu itu aku mau mendengar penjelasannya. Kalau saja waktu itu aku mau membuka telingaku. Kalau saja waktu itu aku mau bersabar sedikit lagi. Kalau saja... Kalimat penyesalan tiada guna.
Dan disinilah aku berdiri sekarang. Menatap dia dan keluarga kecilnya dari kejauhan. Menyesali kebodohanku karena tak sabar menantinya sedikit lagi. Menangisi keputusan yg pernah kubuat. Berdiri terpaku tanpa seorang pendamping disisiku. Perihku melihatnya.
Ah, sudahlah. Lebih baik aku mendoakannya. Semoga dia mendapatkan yg terbaik. Semoga keluarga kecilnya bahagia selalu. Semoga dia tetap mengingatku dan kenangannya bersamaku. Semoga... Semoga aku bisa seperti dia.
Aku berbalik
Selamat tinggal masa lalu ku...
Saturday, November 5, 2011
Lakon Pecundang
Belum lama Bumi tertawa kencang. Ada apa dengannya? Pikirku.
"Hei, 1 tahun sudah berlalu & 1 tahun jg berkurang umurmu di sini. Lalu apa yg sudah kau kerjakan? Kau hanya menjadi penonton disaat semua orang berlakon. Mau jadi pecundang kau? Hahaha".
Apa? Pecundang? Hardik ku bergema.
"Kau lihat, semua orang sudah bergerak, berjalan, bahkan berlari. Memainkan perannya masing-masing. Kau? Hanya duduk disana, tak berbuat apa-apa. Menjadi penonton abadi. Atau lebih baik kau kupanggil pecundang abadi!"
Kurang ajar kau! Umpat ku tak digubrisnya.
Dan sekali lagi terdengar tawa kencang di telingaku, Bumi tertawa mengejek.
Sial!!
"Hei, 1 tahun sudah berlalu & 1 tahun jg berkurang umurmu di sini. Lalu apa yg sudah kau kerjakan? Kau hanya menjadi penonton disaat semua orang berlakon. Mau jadi pecundang kau? Hahaha".
Apa? Pecundang? Hardik ku bergema.
"Kau lihat, semua orang sudah bergerak, berjalan, bahkan berlari. Memainkan perannya masing-masing. Kau? Hanya duduk disana, tak berbuat apa-apa. Menjadi penonton abadi. Atau lebih baik kau kupanggil pecundang abadi!"
Kurang ajar kau! Umpat ku tak digubrisnya.
Dan sekali lagi terdengar tawa kencang di telingaku, Bumi tertawa mengejek.
Sial!!
Thursday, November 3, 2011
Perjalanan [Rahasia] Kita
11 thn lalu, tak ada yg tahu irc room chat menjadi tempat bercanda kita
10 thn lalu, tak ada yg tahu gereja menjadi tempat kencan pertama kita
5 thn lalu, tak ada yg tahu kita merancang masa depan kita
4 thn lalu, tak ada yg tahu kita mewujudkan rencana kita
Tahun ini, tak ada yg tahu kita masih berjuang bersama mengatasi perbedaan di antara kita
Perjalanan ini masih panjang, pertempuran baru dimulai
Biarlah semua perbedaan perspektif membentuk satu jalinan tali merah persahabatan yg makin lama semakin kuat, hingga tak ada satu mata pisau pun yg mampu menyobeknya
Tak ada satu topan atau badai yg mampu melumpuhkan.
Teruntuk sahabat terbaik ku, Hindra Salim ~ 4th year of journey
10 thn lalu, tak ada yg tahu gereja menjadi tempat kencan pertama kita
5 thn lalu, tak ada yg tahu kita merancang masa depan kita
4 thn lalu, tak ada yg tahu kita mewujudkan rencana kita
Tahun ini, tak ada yg tahu kita masih berjuang bersama mengatasi perbedaan di antara kita
Perjalanan ini masih panjang, pertempuran baru dimulai
Biarlah semua perbedaan perspektif membentuk satu jalinan tali merah persahabatan yg makin lama semakin kuat, hingga tak ada satu mata pisau pun yg mampu menyobeknya
Tak ada satu topan atau badai yg mampu melumpuhkan.
Teruntuk sahabat terbaik ku, Hindra Salim ~ 4th year of journey
Thursday, September 22, 2011
Salam Persahabatan
Beberapa waktu lalu, seorang teman mengundang saya untuk datang ke pembukaan restoran miliknya. Jujur saja, saya sedikit merasa tersanjung dengan undangannya, karena sepengetahuan saya teman tersebut tidak banyak mengundang teman-teman saya lainnya. Disini saya sebut ia sebagai teman karena tampaknya tak pantas bagi saya untuk menyebutnya sebagai sahabat, disebabkan hubungan pertemanan kami yang tidak cukup akrab sehingga jika menyebutnya sahabat seperti mengharapkan sesuatu yang lebih dari dirinya, padahal belum tentu ia ingin berakrab-akrab dengan saya dan menyebut saya sebagai sahabatnya, jadi saya putuskan disini bahwa saya akan menyebutnya sebagai teman saja.
Dari penjelasan singkat tadi mungkin bisa ditangkap sedikit alasan ketersanjungan saya akan undangannya tadi. Hubungan pertemanan kami tidak terlalu akrab, bermula dari teman SMP sampai dengan SMU lalu berpisah di bangku kuliah, bertemu lagi beberapa pernikahan sahabat-sahabat kami dan berpisah lagi, lalu bertemu lagi di salah satu tempat fitness dan berpisah lagi, bertemu lagi di salah satu kedai kopi langganan kami dan kemudian berpisah lagi, bertemu lagi di seminar atau reuni sekolah dan berpisah lagi, begitu terus. Dan tiba-tiba saya mendapat undangan untuk pembukaan restorannya yang baru di daerah Jakarta Barat. Cukup tersanjung mendapatinya walaupun pada akhirnya saya tidak dapat menepati janji saya untuk datang ke acara pembukaan tersebut. Free Flow Beer yang dijanjikannya terpaksa saya lupakan karena banyak hal. Hal itulah yang membuat saya tidak berani untuk menyebutnya sahabat saya, takut nanti dikira saya terlalu ge-er, padahal dia sendiri hanya menganggap saya sebagai salah satu teman sekolahnya saja
Jujur saja, sebenarnya saya cukup kagum dengan jalan hidupnya, walaupun ada beberapa teman dan sahabat yang memandang tak suka padanya. Seingat saya, ketika duduk di bangku kelas 3 SMU ayahnya meninggal dunia, lalu menyusul ibunya ketika kami duduk di bangku kuliah. Saya menyempatkan diri untuk datang melayat sekaligus mencari tahu bagaimana nasib kehidupannya mendatang. Akan tinggal dengan siapakah dia? Apakah akan terus melanjutkan kuliahnya atau tidak? Darimana keuangannya akan mengalir? Kepada siapa dia akan mengadu kalau tertimpa bencana? Semua pertanyaan itu tidak pernah terjawab karena kami tak pernah bertemu lagi dan beberapa teman yang kehilangan kontak dengannya.
Sampai suatu ketika, selepas 2 tahun saya meninggalkan bangku kuliah, saya bertemu dengannya di salah satu tempat fitness yang terletak di salah satu mall besar di bilangan Jakarta Barat. Saat bertemu dengannya saya cukup canggung karena ketidakakraban satu sama lain, namun saya beranikan diri saja untuk mengajaknya bertukar cerita. Ternyata selama ini ia tetap kuliah sambil meneruskan usaha ayahnya di Bangka Belitung sekaligus menjadi orang tua bagi seorang adik perempuannya. Suatu siklus kehidupan yang cukup berat bagi seorang laki-laki berusia 21 tahun, usia yang bagi sebagian orang digunakan untuk bersenang-senang, bermain sepuasnya dengan orang-orang seumurannya, berpesta pora sampai pagi, mabuk-mabukan tak kenal waktu, menghabiskan uang jajan pemberian orang tuanya, namun hal itu tak mungkin baginya. Saat itu ia harus memilih antara menjadi seorang egois yang tetap memposisikan diri sebagai seorang anak muda dengan banyak keinginan atau menjadi seorang kakak sekaligus ibu dan ayah bagi seorang adiknya yang masih kecil dan melanjutkan perusahaan ayahnya demi membayar hidupnya dan adiknya. Pilihan yang sulit menurut saya, karena bagi saya, usia 21 tahun itu adalah usia dimana saya baru merasakan nikmatnya mengenal dunia pergaulan anak muda jaman sekarang, bersenang-senang dengan teman satu geng sampai larut malam, tidak usah bersusah-susah memikirkan akan makan apa besok, apakah bisa membayar gaji asisten rumah tangga bulan ini atau tidak, ketika kurang uang jajan maka akan menyodorkan tangan pada ayah saya.
Semua ketidakkhawatiran saya menjadi kekhawatirannya, namun ketika ia melihat adik perempuannya yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ibu, ia pun bersemangat untuk merangkap pekerjaan ayah dan ibunya sekaligus menjadi kakak yang siap berbagi cerita serta keluh kesah. Sejak pertemuan itu, kami jadi lumayan sering bertemu di beberapa pernikahan teman dan sahabat kami. Dan sejak itu juga, saya menjadi lebih tidak canggung ketika bertemu dengannya.
Suatu waktu, saya mendapat berita darinya, ia mendapat rekan kerja seorang penilai makanan ternama Ibukota, ia akan membuka kedai makanan di Bali, dan voila, jadilah sekarang ia seorang pebisnis makanan. Mungkin karena merasa sudah lebih berhasil dibanding beberapa teman sepermainannya, membuat dirinya menjadi sedikit pongah dan berlagak. Tak sedikit dari teman dan sahabat saya yang memutuskan tidak ingin meneruskan pertemanan dengannya, karena tindak tanduknya yang sudah melebihi batas seorang yang sukses di usia muda. Mungkin baginya tak masalah teman-teman tersebut menjauhinya, sepertinya ia tak merasa rugi kehilangan teman-teman sepermainannya dulu. Dan sekarang, ketika ia sudah mandiri dan bisa membuka satu restoran lagi, sepenglihatan saya tak satu pun teman sepermainan kami mengucapkan selamat atas keberhasilannya, dan tak satu pun dari mereka diundang datang ke pembukaan restoran tersebut.
Bagi saya, memiliki seorang teman dan atau sahabat itu seperti memiliki asset penting perusahaan. Saya selalu berusaha memperlakukan teman dan atau sahabat seperti layaknya memperlakukan asset penting. Mengapa saya sebut asset penting, nanti saya jelaskan. Sebisa mungkin saya menyempatkan pertemuan-pertemuan dengan mereka, atau jika keterbatasan waktu maka tinggal tekan nomor telepon mereka maka perbincangan akan mengalir, atau jika pulsa tidak mengijinkan untuk melakukan panggilan maka ketik saja SMS. Dan satu hal lagi, nikmatnya hidup di jaman modern dan serba canggih ini, ngobrol dengan teman dan atau sahabat itu bisa dilakukan lewat dunia maya, social media yang bertebaran di dunia maya dulu hanya dapat diakses dari komputer sekarang ada dalam genggaman hingga mudah bagi saya untuk menyapa teman dan sahabat dari jauh sekalipun.
Sekarang saya jelaskan mengapa teman dan sahabat itu asset penting bagi saya, saya adalah seorang yang malas belajar, namun saya sangat suka membaca buku (kecuali buku pelajaran) dan "menguping" obrolan orang-orang di sekitar saya. Bagi saya, selain pengetahuan melalui buku-buku, obrolan orang-orang di sekitar itu adalah pelajaran buat saya, sehingga ketika terlibat dalam suatu obrolan dengan teman-teman dan sahabat-sahabat saya maka saya akan belajar banyak dari mereka. Seakan-akan teman-teman dan sahabat-sahabat saya adalah mata dan telinga saya yang bisa berkeliling dunia dalam berbagai waktu, lalu kembali ketika sudah mengumpulkan banyak informasi. Oleh sebab itu saya benar-benar menganggap mereka sebagai asset penting, karena tanpa mereka sepertinya saya menjadi buta dan tidak tahu apa yang melanda dunia saat ini. Dan karena itu juga lah saya benar-benar menjaga tali persahabatan dan pertemanan saya agar tidak terputus, karena saya tak ingin pengetahuan saya akan dunia terputus juga.
Entah bagaimana dengan para teman dan sahabat di luar sana, satu kalimat yang ingin saya ucapkan, Salam Persahabatan :)
Sampai suatu ketika, selepas 2 tahun saya meninggalkan bangku kuliah, saya bertemu dengannya di salah satu tempat fitness yang terletak di salah satu mall besar di bilangan Jakarta Barat. Saat bertemu dengannya saya cukup canggung karena ketidakakraban satu sama lain, namun saya beranikan diri saja untuk mengajaknya bertukar cerita. Ternyata selama ini ia tetap kuliah sambil meneruskan usaha ayahnya di Bangka Belitung sekaligus menjadi orang tua bagi seorang adik perempuannya. Suatu siklus kehidupan yang cukup berat bagi seorang laki-laki berusia 21 tahun, usia yang bagi sebagian orang digunakan untuk bersenang-senang, bermain sepuasnya dengan orang-orang seumurannya, berpesta pora sampai pagi, mabuk-mabukan tak kenal waktu, menghabiskan uang jajan pemberian orang tuanya, namun hal itu tak mungkin baginya. Saat itu ia harus memilih antara menjadi seorang egois yang tetap memposisikan diri sebagai seorang anak muda dengan banyak keinginan atau menjadi seorang kakak sekaligus ibu dan ayah bagi seorang adiknya yang masih kecil dan melanjutkan perusahaan ayahnya demi membayar hidupnya dan adiknya. Pilihan yang sulit menurut saya, karena bagi saya, usia 21 tahun itu adalah usia dimana saya baru merasakan nikmatnya mengenal dunia pergaulan anak muda jaman sekarang, bersenang-senang dengan teman satu geng sampai larut malam, tidak usah bersusah-susah memikirkan akan makan apa besok, apakah bisa membayar gaji asisten rumah tangga bulan ini atau tidak, ketika kurang uang jajan maka akan menyodorkan tangan pada ayah saya.
Semua ketidakkhawatiran saya menjadi kekhawatirannya, namun ketika ia melihat adik perempuannya yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ibu, ia pun bersemangat untuk merangkap pekerjaan ayah dan ibunya sekaligus menjadi kakak yang siap berbagi cerita serta keluh kesah. Sejak pertemuan itu, kami jadi lumayan sering bertemu di beberapa pernikahan teman dan sahabat kami. Dan sejak itu juga, saya menjadi lebih tidak canggung ketika bertemu dengannya.
Suatu waktu, saya mendapat berita darinya, ia mendapat rekan kerja seorang penilai makanan ternama Ibukota, ia akan membuka kedai makanan di Bali, dan voila, jadilah sekarang ia seorang pebisnis makanan. Mungkin karena merasa sudah lebih berhasil dibanding beberapa teman sepermainannya, membuat dirinya menjadi sedikit pongah dan berlagak. Tak sedikit dari teman dan sahabat saya yang memutuskan tidak ingin meneruskan pertemanan dengannya, karena tindak tanduknya yang sudah melebihi batas seorang yang sukses di usia muda. Mungkin baginya tak masalah teman-teman tersebut menjauhinya, sepertinya ia tak merasa rugi kehilangan teman-teman sepermainannya dulu. Dan sekarang, ketika ia sudah mandiri dan bisa membuka satu restoran lagi, sepenglihatan saya tak satu pun teman sepermainan kami mengucapkan selamat atas keberhasilannya, dan tak satu pun dari mereka diundang datang ke pembukaan restoran tersebut.
Bagi saya, memiliki seorang teman dan atau sahabat itu seperti memiliki asset penting perusahaan. Saya selalu berusaha memperlakukan teman dan atau sahabat seperti layaknya memperlakukan asset penting. Mengapa saya sebut asset penting, nanti saya jelaskan. Sebisa mungkin saya menyempatkan pertemuan-pertemuan dengan mereka, atau jika keterbatasan waktu maka tinggal tekan nomor telepon mereka maka perbincangan akan mengalir, atau jika pulsa tidak mengijinkan untuk melakukan panggilan maka ketik saja SMS. Dan satu hal lagi, nikmatnya hidup di jaman modern dan serba canggih ini, ngobrol dengan teman dan atau sahabat itu bisa dilakukan lewat dunia maya, social media yang bertebaran di dunia maya dulu hanya dapat diakses dari komputer sekarang ada dalam genggaman hingga mudah bagi saya untuk menyapa teman dan sahabat dari jauh sekalipun.
Sekarang saya jelaskan mengapa teman dan sahabat itu asset penting bagi saya, saya adalah seorang yang malas belajar, namun saya sangat suka membaca buku (kecuali buku pelajaran) dan "menguping" obrolan orang-orang di sekitar saya. Bagi saya, selain pengetahuan melalui buku-buku, obrolan orang-orang di sekitar itu adalah pelajaran buat saya, sehingga ketika terlibat dalam suatu obrolan dengan teman-teman dan sahabat-sahabat saya maka saya akan belajar banyak dari mereka. Seakan-akan teman-teman dan sahabat-sahabat saya adalah mata dan telinga saya yang bisa berkeliling dunia dalam berbagai waktu, lalu kembali ketika sudah mengumpulkan banyak informasi. Oleh sebab itu saya benar-benar menganggap mereka sebagai asset penting, karena tanpa mereka sepertinya saya menjadi buta dan tidak tahu apa yang melanda dunia saat ini. Dan karena itu juga lah saya benar-benar menjaga tali persahabatan dan pertemanan saya agar tidak terputus, karena saya tak ingin pengetahuan saya akan dunia terputus juga.
Entah bagaimana dengan para teman dan sahabat di luar sana, satu kalimat yang ingin saya ucapkan, Salam Persahabatan :)
Monday, August 22, 2011
Pasar Malam
Macet,
Motor parkir menutup jalan,
Mereka hilir mudik,
Memangku anak diatas motor,
Membelikan permen,
Menghibur dengan permainan,
Menyanyikan lagu-lagu dangdut khas jalanan,
Mencoba bermacam pakaian yang dijual,
Mencicip jajanan pinggiran,
Tangisan,
Tertawa,
Teriak senang,
Riuh suasana,
Jalanan ditutup,
Pasar malam,
Dan kemeriahan di dalamnya....
Subscribe to:
Posts (Atom)