Kawan, mari aku ceritakan satu cerita. Cerita tentang wanita. Cerita akan kerumitan seorang wanita. Cerita akan kemisteriusan seorang wanita. Cerita tentang menariknya seorang wanita.
Bermula dari ketika aku mendekati seorang wanita. Wanita ini menarik, fisik dan tutur katanya. Rambut hitamnya panjang tergerai sepunggung tersisir rapi selalu. Kulit putih nan mulus terawat terlihat dari ujung-ujung kukunya yang terpotong rapi dipoles cat kuku. Baju yang dikenakannya selalu mengikuti trend masa kini. Belum lagi sepatu atau sandal yang menemani kakinya kemana-mana tak pernah terlihat debu melekat disana. "Sempurna", aku mengucap dalam hati.
Memulai proses pendekatan dengan wanita ini sungguh menguras energi. Penampilan yang aku punya hanya kaos oblong dengan gambarnya nyaris hilang tersapu air sabun untuk mencucinya setiap dua hari sekali. Celana jins yang robek, bukan karena mengikuti mode anak-anak punk tapi karena terlalu sering kena sikat.
Tanpa sepatu, hanya bersandal jepit kamar mandi dengan tali rafia warna merah terikat menyatukan kedua ujung penjepit sandal karena penjepit itu sendiri sudah mulai aus dan mendekati ajalnya, putus.
Rambut berminyak bukan karena gel rambut yang mengubah tatanan rambut menjadi lebih bergaya, namun karena sudah seminggu aku kehabisan shampoo membuat tak bisa keramas.
Mencoba peruntungan aku beranikan diri mencari nomor telepon indekosnya. Melalui seorang teman yang notabene saudara sepupunya, aku bisa nonton bioskop dengannya. Sayangnya syaratnya tak boleh nonton berdua saja dengannya. Jadilah bodyguard yang terdiri dari sepupunya itu dan 2 orang temanku dipaksa menemani kami. Tapi tampaknya suatu hari nanti aku harus berterima kasih pada para bodyguard ini. Mereka dengan pintarnya mengatur tempat duduk agar aku bisa duduk tepat di sebelahnya tanpa diganggu mereka. Jadilah saat itu aku keluar uang buat nonton film action tapi konsentrasi teralih dengan rencana busuk dikepala, bagaimana caranya memegang tangannya di dalam bioskop tanpa membuatnya marah. Ah, sial!
Tenang kawan, saat itu rencana busuk itu tak ku laksanakan.
Setelah hari itu aku mulai berani menelepon indekosnya. Tapi untuk mengajaknya keluar sekedar berjalan-jalan ke mall sungguh sulit. Syarat yang diajukan lama-lama membuatku tak sanggup lagi mengikuti permainannya. Berpakaian kemeja rapi dan licin tersetrika, bersandal bukan sandal jepit kamar mandi, rambut tersisir rapi, mandi 2 kali sehari dan rambut dicuci dengan shampoo, semua bisa aku ikuti. Tapi kalau setiap mau diajak jalan-jalan aku harus bawa teman dan dia harus bawa teman, lalu kapan aku bisa menyatakan perasaan ini? aku tanyakan kenapa harus membawa teman, tak ada jawabannya kawan.
Pusing, aku tanyakan saja pada sepupunya, tau kau apa katanya? Dia malu jalan berdua saja denganku karena tingkat kegantengan yang pas-pas-an, tak seperti pasangan orang lain yang lebih ganteng, tinggi, putih, dan bergaya necis. Karena itu selama ini dia selalu menghindari jalan berdua saja denganku, sampai suatu saat nanti dia menilai penampilanku ini cukup pantas untuk bersanding berdua saja dengannya di mall maka ia akan berani menjawab ajakanku ke mall berdua saja. Gila betul wanita ini kawan.
Setahun berlalu terus macam begitu siapa yang tahan. Tak mau lagi mengikuti permainannya, aku sudahi semua ini dengan tak mau menelepon indekosnya lagi. Kira-kira 1 bulan lewat sudah, sampai suatu malam telepon indekosku yang berbunyi dan ternyata telepon itu untukku. Dari wanita itu? Tak mungkin dia yang telepon kawan, wanita itu pengecut, tak bernyali.
Sepupunya yang menelepon, menanyakan kabar, dan interogasinya pun dimulai. Pertanyaan kenapa dan kenapa dan kenapa terus mengalir darinya. Aku malas meladeni, aku tahu pasti wanita itu menginginkan jawaban. Singkat cerita keluarlah berita wanita itu rindu suaraku. Ha! Rindu! Betul kawan, aku tak salah, dia bilang rindu. Kau bayangkan kawan, sekarang dia bilang rindu suaraku. Benar gila wanita itu.
Wanita itu terus menunggu kapan suaraku akan menyapanya lagi lewat telepon indekos. Wanita pengecut tanpa nyali itu terus menunggu sampai akhirnya tak kuat lagi menunggu dan memohon pertolongan seseorang menyampaikan suara hatinya itu padaku.
Dulu aku ditolaknya setiap hari, sekarang dia bilang rindu.
Dulu aku tak pernah ditunggunya, sekarang dia rela memohon seseorang menyampaikan maksud hati.
Dulu dia tak mau diajak ke mall berdua saja, sekarang dia menjadi istriku.
Dulu dia malu dengan wajahku, sekarang kami menantikan anak kedua.
Nah, sekarang kau mengertikan kau kawan, mengapa kukatakan seorang wanita penuh dengan misteri.
Hanya coretan tak berarti... Hanya cacian tak bermakna... Hanya gundah tak beralasan... Hanya langkah yang terhenti...
Saturday, November 3, 2012
Friday, November 2, 2012
Cerpen 11 - Sepatu Merah
"Bu, sepatuku sudah usang. Berlubang disana sini. Aku ingin sepatu merah baru yang cantik."
"nanti ya nak, uang ibu belum cukup."
--
"Lihat bu, sepatu merah itu cantik ya."
"nanti ya nak, uang ibu belum cukup."
--
"Bu, kata kakak penjual, sepatu merah itu hanya sepasang. Bagaimana ini bu?"
"Nanti ya nak, uang ibu belum cukup."
--
"Bu, coba dengar, kata kakak penjual, ia akan menyimpan sepatu merah cantik itu untukku. Tapi hanya 1 minggu saja."
"....."
--
"Bu, lupakan saja sepatu merah cantik itu. Kata kakak penjual, sepatu merah cantik itu sudah terjual."
"Maaf ya nak, uang ibu masih belum cukup."
--
"Nak, tadi di tong sampah ibu lihat sepatu merah yang kau inginkan. Hanya saja pitanya sudah hilang sebelah. Dia sudah tidak cantik lagi."
"Tak apa bu. Lihat, pitanya yang sebelah aku buang saja, biar sama."
--
"Terima kasih bu. Ibu baik sekali. sepatu ini terlihat cantik di kakiku. Aku senang."
"nanti ya nak, uang ibu belum cukup."
--
"Lihat bu, sepatu merah itu cantik ya."
"nanti ya nak, uang ibu belum cukup."
--
"Bu, kata kakak penjual, sepatu merah itu hanya sepasang. Bagaimana ini bu?"
"Nanti ya nak, uang ibu belum cukup."
--
"Bu, coba dengar, kata kakak penjual, ia akan menyimpan sepatu merah cantik itu untukku. Tapi hanya 1 minggu saja."
"....."
--
"Bu, lupakan saja sepatu merah cantik itu. Kata kakak penjual, sepatu merah cantik itu sudah terjual."
"Maaf ya nak, uang ibu masih belum cukup."
--
"Nak, tadi di tong sampah ibu lihat sepatu merah yang kau inginkan. Hanya saja pitanya sudah hilang sebelah. Dia sudah tidak cantik lagi."
"Tak apa bu. Lihat, pitanya yang sebelah aku buang saja, biar sama."
--
"Terima kasih bu. Ibu baik sekali. sepatu ini terlihat cantik di kakiku. Aku senang."
Cerpen 10 - Satu Kata
Berdua.
Duduk.
Diam.
Gelas.
Kopi.
Panas.
"Maaf.."
Dia menggenggam. Aku menatap.
Dia berdiri. Aku tengadah.
Dia berbalik. Aku terpana.
Dia melangkah. Aku terdiam.
Hanya itu saja. Cukup satu kata.
Tak ada lainnya.
Aku kembali sendiri.
Termangu bersama angin.
Duduk.
Diam.
Gelas.
Kopi.
Panas.
"Maaf.."
Dia menggenggam. Aku menatap.
Dia berdiri. Aku tengadah.
Dia berbalik. Aku terpana.
Dia melangkah. Aku terdiam.
Hanya itu saja. Cukup satu kata.
Tak ada lainnya.
Aku kembali sendiri.
Termangu bersama angin.
Saturday, September 8, 2012
Ketika
Patah hati, ketika aku tahu ternyata kau sudah punya seseorang dan kau hanya menjadikan aku pelarianmu saja.
Marah, ketika dengan seenaknya kau bilang, "Putusin dulu pacar lu baru gue putusin cewek gue."
Kecewa, ketika aku minta kita tetep berteman dan kau bilang oke namun hatimu berbanding terbalik dengan mulutmu.
Pasrah, ketika semua jalur komunikasi yang aku coba tak pernah kau balas satupun.
Sedih, ketika aku tahu ternyata kau memutuskan untuk menghapus aku dari seluruh daftar kontakmu.
Marah, ketika dengan seenaknya kau bilang, "Putusin dulu pacar lu baru gue putusin cewek gue."
Kecewa, ketika aku minta kita tetep berteman dan kau bilang oke namun hatimu berbanding terbalik dengan mulutmu.
Pasrah, ketika semua jalur komunikasi yang aku coba tak pernah kau balas satupun.
Sedih, ketika aku tahu ternyata kau memutuskan untuk menghapus aku dari seluruh daftar kontakmu.
Sunday, August 12, 2012
Cerpen 9 - Wanita Pertama
Dia, wanita pertama yang tak malu duduk di vespa butut ini. Wanita pertama yang selalu tersenyum malu-malu ketika aku menggandeng tangannya. Rona merah muda yang mewarnai pipinya saat kuperkenalkan pada sahabat-sahabatku akan terus melekat erat di seluruh selaput otakku.
Dia, wanita pertama yang kusebut calon istri di depan orang tuaku. Wanita pertama yang diterima keluarga besarku sebagai calon ibu anak-anakku. Tutur bahasanya yang lembut dan halus langsung mengikat keluarga besarku untuk langsung meminangnya.
Dia, wanita pertama yang aku percayakan mengurus rumah tangga dan keuangan keluarga. Wanita yang ingin kuajak berbagi segala hal hingga maut memisahkan kehidupan ini.
Namun ternyata cerita ini hanya keinginan diriku semata, dia hanya impian tak tergapai yang diciptakan Tuhan untukku. Cerita ini berubah 180 derajat lebih buruk dari yang pernah dibayangkan, berubah bak sinetron-sinetron picisan yang berlomba-lomba merekam adegan menciptakan ratusan episode untuk merebut rating tertinggi.
Dia, wanita pertama yang memaksaku membuang orang tuaku. Wanita yang merusak tali persaudaraan keluarga besar yang terjalin manis selama puluhan tahun. Wanita laknat yang mencoba menguasai seluruh isi rumah agar bisa menginjakku lebih rendah hingga ke dasar perut bumi.
Dia, wanita yang tak pernah kubayangkan akan menghadirkan dua malaikat kecil di rumah ini dengan ramai celotehan mereka. Wanita yang tak mampu mengurus kedua putri kami. Wanita yang hanya tahu menghamburkan kerja keras suami dengan belanjaan yang entah untuk apa gunanya. Wanita tak berguna yang harus kupanggil istri!
Dia, wanita pertama yang membuat aku muak tak tahan tinggal diam di rumah menatap wajah polosnya seakan tanpa dosa. Wanita pertama yang ingin kutinggalkan namun tak tega karena dua malaikat ini benar-benar memanah jantungku dan menahannya disana untuk memastikan aku akan selalu pulang untuk mereka.
Dia, wanita sinting nan gila yang sampai entah kapan aku sanggup bertahan dengannya.
Ah, sudahlah, malaikat-malaikat kecilku sudah menanti dirumah. Aku harus segera pulang sebelum wanita laknat itu mulai memukul si kecil karena tak tahan dengan tangisannya. Biarlah cerita ini menjadi bagian dari cerita-cerita sinetron picisan yang mengejar rating tertinggi, aku hanya ingin pulang dan memeluk malaikat-malaikatku.
Dia, wanita pertama yang kusebut calon istri di depan orang tuaku. Wanita pertama yang diterima keluarga besarku sebagai calon ibu anak-anakku. Tutur bahasanya yang lembut dan halus langsung mengikat keluarga besarku untuk langsung meminangnya.
Dia, wanita pertama yang aku percayakan mengurus rumah tangga dan keuangan keluarga. Wanita yang ingin kuajak berbagi segala hal hingga maut memisahkan kehidupan ini.
Namun ternyata cerita ini hanya keinginan diriku semata, dia hanya impian tak tergapai yang diciptakan Tuhan untukku. Cerita ini berubah 180 derajat lebih buruk dari yang pernah dibayangkan, berubah bak sinetron-sinetron picisan yang berlomba-lomba merekam adegan menciptakan ratusan episode untuk merebut rating tertinggi.
Dia, wanita pertama yang memaksaku membuang orang tuaku. Wanita yang merusak tali persaudaraan keluarga besar yang terjalin manis selama puluhan tahun. Wanita laknat yang mencoba menguasai seluruh isi rumah agar bisa menginjakku lebih rendah hingga ke dasar perut bumi.
Dia, wanita yang tak pernah kubayangkan akan menghadirkan dua malaikat kecil di rumah ini dengan ramai celotehan mereka. Wanita yang tak mampu mengurus kedua putri kami. Wanita yang hanya tahu menghamburkan kerja keras suami dengan belanjaan yang entah untuk apa gunanya. Wanita tak berguna yang harus kupanggil istri!
Dia, wanita pertama yang membuat aku muak tak tahan tinggal diam di rumah menatap wajah polosnya seakan tanpa dosa. Wanita pertama yang ingin kutinggalkan namun tak tega karena dua malaikat ini benar-benar memanah jantungku dan menahannya disana untuk memastikan aku akan selalu pulang untuk mereka.
Dia, wanita sinting nan gila yang sampai entah kapan aku sanggup bertahan dengannya.
Ah, sudahlah, malaikat-malaikat kecilku sudah menanti dirumah. Aku harus segera pulang sebelum wanita laknat itu mulai memukul si kecil karena tak tahan dengan tangisannya. Biarlah cerita ini menjadi bagian dari cerita-cerita sinetron picisan yang mengejar rating tertinggi, aku hanya ingin pulang dan memeluk malaikat-malaikatku.
Saturday, August 11, 2012
Cerpen 8 - Cinta Terlarang
Tak ada yang tahu, untuk apa aku menabung sekian lama.
Tak ada yang tahu, mengapa aku berkeras hati ingin ke Belanda.
Tak ada yang tahu, bagaimana aku mengawali rencana ini.
Media sosial membantu banyak perkenalan kita. Perkenalan singkat namun bermakna dalam bagi kita. Aku yang terkesan dengan kepandaianmu, pola pikirmu yang sangat modern dan kebarat-baratan, tak pernah kukira kesan ini bermetamorfosis menjadi kagum yang terbungkus rapi di sudut hati macam kepompong lalu menetas dan merekah seiring waktu menjadi cinta. Cinta yang ternyata tak bertepuk sebelah tangan, kau mengungkapkan hal yang sama. Hati ini tersanjung, terbang ke angkasa tinggi melambung dan tak ingin kembali ke bumi.
Belanda, tempat awal pertemuan yang mendebarkan. Menatap matamu yang agak kebiruan untuk pertama kali dan kulit putihmu seakan menegaskan perbedaan kultur diantara diriku dan dirimu. Ah, menarik sekali laki-laki dihadapan ku ini. Aku berlagak tenang, menjaga bahasa tubuh ku agar tak kelihatan betapa senang hatiku bertemu denganmu. Menjaga tutur bahasaku agar tak ketahuan aku yang serampangan. Laki-laki Indonesia keturunan Belanda yang sungguh membuatku jatuh hati dan tak ingin berpaling lagi. Pemandangan musim gugur di Amsterdam dengan tiupan angin sejuknya tak cukup mampu mengalihkan pandanganku darimu.
Perkenalan dengan keluarga kecil itu seakan menyatukan kepingan kecil dalam hidupku. Seorang tante yang bertahun-tahun tak kutemui, berkenalan dengan om yang bule dan dua orang saudara sepupu laki-laki yang tak pernah kutemui secara langsung, hanya skype tempat perkenalan awal kami. Rumah ini akan menjadi rumahku selama dua minggu ke depan. Aku harus berusaha membiasakan diri dengan bahasa dan situasi sehari-hari di rumah ini. Dinding kamar yang dingin menjadi pemisah sementara diantara kita. Tak apa, dua hari lagi kita akan berkeliling Belanda, menumpang perahu kecil melewati kanal-kanal di Amsterdam, menyaksikan bule-bule Belanda yang baru keluar dari rumah perahu mereka, menikmati rumah-rumah miring khas Amsterdam, menjelajah Volendam, berburu kincir angin untuk difoto, mengejar kereta ke Jerman, Belgia, dan berakhir di menara Eiffel Paris, kota cinta. Aku hanya perlu bersabar dan menikmati semuanya.
Sepuluh hari berkeliling rasanya tubuh ini tak ingin kembali ke Belanda, kembali ke dinding dingin yang memisahkan kita. Belanda juga menjadi tanda bahwa liburan ini telah berakhir, aku harus kembali ke Jakarta, kembali ke realita seakan perjalanan ini hanya mimpi indah sesaat dan ketika terbangun nanti semua ini akan terbang bersama kumpulan molekul udara. Kecupanmu di keningku saat itu menjadi kecupan terakhir kita. Dekapan eratmu saat itu seperti tak ingin melepaskan, udara musim gugur saat itu mulai terasa semakin dingin. Aku tak ingin perjalanan ini berakhir!
Jakarta, kota besar yang menenggelamkan mimpi dua minggu itu secepat angin musim gugur bertiup merontokkan daun-daun di pinggir-pinggir kanal Amsterdam. Aku merasakan angin musim gugur mulai merontokkam daun-daun hati ini karena mereka menentang cinta kita. Tiga bulan berlalu sudah, orang tua dan semua orang mencium gelagat aneh tentang kita selama ini. Mereka menentangnya. Sedih, hati ini pilu. Patah arang, tak tahu hatus mengadu kemana. Pertama kali aku mencinta dan pertama kali cinta ini ditentang. Saudara sepupu yang pertama kali bertemu dan langsung membuatku jatuh cinta. Saudara sepupu yang pertama kali mencium lembut pipiku di bawah menara Eiffel. Saudara sepupu yang mendekapku erat di musim gugur ini. Saudara sepupu yang amat kucinta.
Kini, semua tahu tentang kita.
Kini, semua tahu tentang perjalanan kita.
Kini, semua tahu tentang cinta kita... Cinta yang terlarang...
Tak ada yang tahu, mengapa aku berkeras hati ingin ke Belanda.
Tak ada yang tahu, bagaimana aku mengawali rencana ini.
Media sosial membantu banyak perkenalan kita. Perkenalan singkat namun bermakna dalam bagi kita. Aku yang terkesan dengan kepandaianmu, pola pikirmu yang sangat modern dan kebarat-baratan, tak pernah kukira kesan ini bermetamorfosis menjadi kagum yang terbungkus rapi di sudut hati macam kepompong lalu menetas dan merekah seiring waktu menjadi cinta. Cinta yang ternyata tak bertepuk sebelah tangan, kau mengungkapkan hal yang sama. Hati ini tersanjung, terbang ke angkasa tinggi melambung dan tak ingin kembali ke bumi.
Belanda, tempat awal pertemuan yang mendebarkan. Menatap matamu yang agak kebiruan untuk pertama kali dan kulit putihmu seakan menegaskan perbedaan kultur diantara diriku dan dirimu. Ah, menarik sekali laki-laki dihadapan ku ini. Aku berlagak tenang, menjaga bahasa tubuh ku agar tak kelihatan betapa senang hatiku bertemu denganmu. Menjaga tutur bahasaku agar tak ketahuan aku yang serampangan. Laki-laki Indonesia keturunan Belanda yang sungguh membuatku jatuh hati dan tak ingin berpaling lagi. Pemandangan musim gugur di Amsterdam dengan tiupan angin sejuknya tak cukup mampu mengalihkan pandanganku darimu.
Perkenalan dengan keluarga kecil itu seakan menyatukan kepingan kecil dalam hidupku. Seorang tante yang bertahun-tahun tak kutemui, berkenalan dengan om yang bule dan dua orang saudara sepupu laki-laki yang tak pernah kutemui secara langsung, hanya skype tempat perkenalan awal kami. Rumah ini akan menjadi rumahku selama dua minggu ke depan. Aku harus berusaha membiasakan diri dengan bahasa dan situasi sehari-hari di rumah ini. Dinding kamar yang dingin menjadi pemisah sementara diantara kita. Tak apa, dua hari lagi kita akan berkeliling Belanda, menumpang perahu kecil melewati kanal-kanal di Amsterdam, menyaksikan bule-bule Belanda yang baru keluar dari rumah perahu mereka, menikmati rumah-rumah miring khas Amsterdam, menjelajah Volendam, berburu kincir angin untuk difoto, mengejar kereta ke Jerman, Belgia, dan berakhir di menara Eiffel Paris, kota cinta. Aku hanya perlu bersabar dan menikmati semuanya.
Sepuluh hari berkeliling rasanya tubuh ini tak ingin kembali ke Belanda, kembali ke dinding dingin yang memisahkan kita. Belanda juga menjadi tanda bahwa liburan ini telah berakhir, aku harus kembali ke Jakarta, kembali ke realita seakan perjalanan ini hanya mimpi indah sesaat dan ketika terbangun nanti semua ini akan terbang bersama kumpulan molekul udara. Kecupanmu di keningku saat itu menjadi kecupan terakhir kita. Dekapan eratmu saat itu seperti tak ingin melepaskan, udara musim gugur saat itu mulai terasa semakin dingin. Aku tak ingin perjalanan ini berakhir!
Jakarta, kota besar yang menenggelamkan mimpi dua minggu itu secepat angin musim gugur bertiup merontokkan daun-daun di pinggir-pinggir kanal Amsterdam. Aku merasakan angin musim gugur mulai merontokkam daun-daun hati ini karena mereka menentang cinta kita. Tiga bulan berlalu sudah, orang tua dan semua orang mencium gelagat aneh tentang kita selama ini. Mereka menentangnya. Sedih, hati ini pilu. Patah arang, tak tahu hatus mengadu kemana. Pertama kali aku mencinta dan pertama kali cinta ini ditentang. Saudara sepupu yang pertama kali bertemu dan langsung membuatku jatuh cinta. Saudara sepupu yang pertama kali mencium lembut pipiku di bawah menara Eiffel. Saudara sepupu yang mendekapku erat di musim gugur ini. Saudara sepupu yang amat kucinta.
Kini, semua tahu tentang kita.
Kini, semua tahu tentang perjalanan kita.
Kini, semua tahu tentang cinta kita... Cinta yang terlarang...
Saturday, August 4, 2012
Metamorfosis
Saya punya seorang teman, kalau teman ini pantas disebut sebagai teman. Teman ini sering bercerita pada saya, atau lebih tepatnya mengeluh pada saya. Seringnya ia bercerita (baca: mengeluh) tentang kehidupan pribadinya atau pekerjaannya.
Pernah suatu kali dia bercerita (baca: mengeluh) bahwa dia terpaksa memusuhi seorang rekan kerja wanita demi memperebutkan seorang rekan kerja pria. Dan setelah permusuhan itu terjadi mereka berdua menyadari bahwa rekan kerja pria tersebut malah mentertawakan kebodohan mereka dan mencemoohnya, lalu memilih untuk menyukai rekan kerja wanita yang lain. Akhirnya teman saya tadi malah merasa bersalah telah memusuhi rekan kerjanya sendiri tapi gengsi untuk mengajaknya berbaikan kembali. Saya yang mendengar cerita (baca: keluhan) itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Pernah lagi dia bercerita (baca: mengeluh), ada seorang rekan kerja pria di kantornya yang sepertinya sedang jatuh cinta padanya, karena perhatian yang diberikan sang arjuna ini bak orang yang sedang pendekatan dengan wanita yang disukai. Saya katakan itu belum tentu benar. Bisa saja itu hanya perasaan gede rasa semata teman saya ini. Namun ia tetap dengan pendiriannya. Lalu dengan percaya diri tingkat nasional teman saya ini mengajak si pria itu untuk berjalan-jalan dan menyatakan perasaannya pada si pria. Apa yang terjadi kemudian? Si pria terkaget-kaget dan tidak menyangka bahwa ternyata niat untuk berteman diartikan lain oleh teman saya ini. Dan kembali teman saya menahan malu karena penolakan seorang laki-laki. Kembali saya terbahak-bahak mendengar ceritanya (baca: keluhannya)
Ada lagi ia bercerita (baca: mengeluh) tentang pekerjaannya. Bahwa pekerjaannya begitu banyak, atasannya hanya mempercayai dirinya seorang dan tak mudah mencampakkan kepercayaan besar itu kepada orang lain. Bahwa hanya dirinya lah yang mampu mengerjakan pekerjaan itu, dan hampir semua orang di kantor mengharapkan kehadirannya setiap hari untuk menangani masalah-masalah pelik. Bahwa kalau ia tak masuk kantor sehari maka keadaan di kantor tersebut akan kacau balau. Dan sebagainya. Satu hal yang tak pernah ia tahu, ternyata atasannya sudah menunggu pernyataan berhenti yang akan terlontar dari mulutnya. Dan benar saja, ketika teman saya ini mengancam dengan kata berhenti maka sang atasan pun mempersilahkan dengan lapang dada. Ancaman teman saya ini ternyata menjadi bumerang. Tanpa bisa berkata banyak lagi, maka teman saya ini pun memberhentikan dirinya sendiri dari perusahaan tersebut.
Lama tak terdengar cerita (baca: keluhan) teman ini, hari ini saya kembali mendengarnya. Ternyata ia masih berkutat dengan fenomena yang sama walaupun habitatnya berbeda. Dua kali berpindah habitat namun tetap menemukan fenomena yang sama, saya menyimpulkan sepertinya memang benar ada yang salah dengan kepribadian teman saya ini.
Mendengar ceritanya (baca: keluhannya) saya lebih memilih untuk menutup telinga saja. Tak sebaiknya cerita-cerita negatif itu berputar di dalam kepala saya lalu bermetamorfosis menjadi pikiran busuk lalu mempengaruhi aura dalam tubuh saya yang saya jaga selalu terang berubah menjadi gelap. Sebaiknya saya mulai memilah-milah cerita yang layak saya rekam di memori saya.
Salam metamorfosis :)
Pernah suatu kali dia bercerita (baca: mengeluh) bahwa dia terpaksa memusuhi seorang rekan kerja wanita demi memperebutkan seorang rekan kerja pria. Dan setelah permusuhan itu terjadi mereka berdua menyadari bahwa rekan kerja pria tersebut malah mentertawakan kebodohan mereka dan mencemoohnya, lalu memilih untuk menyukai rekan kerja wanita yang lain. Akhirnya teman saya tadi malah merasa bersalah telah memusuhi rekan kerjanya sendiri tapi gengsi untuk mengajaknya berbaikan kembali. Saya yang mendengar cerita (baca: keluhan) itu langsung tertawa terbahak-bahak.
Pernah lagi dia bercerita (baca: mengeluh), ada seorang rekan kerja pria di kantornya yang sepertinya sedang jatuh cinta padanya, karena perhatian yang diberikan sang arjuna ini bak orang yang sedang pendekatan dengan wanita yang disukai. Saya katakan itu belum tentu benar. Bisa saja itu hanya perasaan gede rasa semata teman saya ini. Namun ia tetap dengan pendiriannya. Lalu dengan percaya diri tingkat nasional teman saya ini mengajak si pria itu untuk berjalan-jalan dan menyatakan perasaannya pada si pria. Apa yang terjadi kemudian? Si pria terkaget-kaget dan tidak menyangka bahwa ternyata niat untuk berteman diartikan lain oleh teman saya ini. Dan kembali teman saya menahan malu karena penolakan seorang laki-laki. Kembali saya terbahak-bahak mendengar ceritanya (baca: keluhannya)
Ada lagi ia bercerita (baca: mengeluh) tentang pekerjaannya. Bahwa pekerjaannya begitu banyak, atasannya hanya mempercayai dirinya seorang dan tak mudah mencampakkan kepercayaan besar itu kepada orang lain. Bahwa hanya dirinya lah yang mampu mengerjakan pekerjaan itu, dan hampir semua orang di kantor mengharapkan kehadirannya setiap hari untuk menangani masalah-masalah pelik. Bahwa kalau ia tak masuk kantor sehari maka keadaan di kantor tersebut akan kacau balau. Dan sebagainya. Satu hal yang tak pernah ia tahu, ternyata atasannya sudah menunggu pernyataan berhenti yang akan terlontar dari mulutnya. Dan benar saja, ketika teman saya ini mengancam dengan kata berhenti maka sang atasan pun mempersilahkan dengan lapang dada. Ancaman teman saya ini ternyata menjadi bumerang. Tanpa bisa berkata banyak lagi, maka teman saya ini pun memberhentikan dirinya sendiri dari perusahaan tersebut.
Lama tak terdengar cerita (baca: keluhan) teman ini, hari ini saya kembali mendengarnya. Ternyata ia masih berkutat dengan fenomena yang sama walaupun habitatnya berbeda. Dua kali berpindah habitat namun tetap menemukan fenomena yang sama, saya menyimpulkan sepertinya memang benar ada yang salah dengan kepribadian teman saya ini.
Mendengar ceritanya (baca: keluhannya) saya lebih memilih untuk menutup telinga saja. Tak sebaiknya cerita-cerita negatif itu berputar di dalam kepala saya lalu bermetamorfosis menjadi pikiran busuk lalu mempengaruhi aura dalam tubuh saya yang saya jaga selalu terang berubah menjadi gelap. Sebaiknya saya mulai memilah-milah cerita yang layak saya rekam di memori saya.
Salam metamorfosis :)
Subscribe to:
Posts (Atom)