Thursday, November 17, 2011

Cerpen 5 - Lamaran

Dia, siang itu aku melihatnya. Dia duduk berhadapan dengan seorang wanita, di sampingnya duduk seorang anak laki-laki berumur sekitar 3 tahun. Wanita di depannya memangku seorang putri kecil yg cantik. Aku terpaku, dia sudah berkeluarga dengan 2 orang putra putri. Air mataku mengalir perlahan.

Lima tahun lalu, aku berteriak mengusirnya keluar dari kamar kostku. Aku tak tahan menjalani masa-masa bersamanya tanpa kejelasan akan lanjutan hubungan ini. Enam tahun bersamanya dan tak sedetik pun dia pernah mengucapkan kalimat yg teramat sangat ingin kudengar, lamaran.

Bertahun aku bersabar menunggu kalimat lamaran itu dia ucapkan. Bertahun aku bersabar menantinya menunjukkan keseriusan akan hubungan ini. Bertahun aku bersabar menghadapi tanggapan dingin kedua orang tuanya padaku. Bertahun aku bersabar menutup telinga saat kedua orang tuaku bertanya kemana hubungan ini kan kami bawa. Bertahun aku bersabar, hingga aku tak tahan lagi.

Kesabaran ku habis, dan tiba-tiba saja emosiku memancak, kemudian tanpa sadar kulontarkan juga pertanyaan tak sabarku padanya. Dan yg membuatku kecewa, dia hanya terdiam. Diam, tak ada sepatah kata pun yg dia gumamkan. Geram. Aku geram dibuatnya. "Keluar kau dari sini. Aku tak ingin melihatmu lagi". Malam itu aku usir dia dari kamar kostku.

Malam berikutnya dia datang kembali, namun tetap tanpa sepotong kalimat penenang yg ingin kudengar. Diam. Kami hanya berdiaman di kamar kostku, sampai larut malam, hanya diam. Begitu terus berhari2.
Aku tak tahan dgn sikapnya. Aku mencari pelarian. Seorang rekan kerja sekantor menarik perhatian ku. Benar-benar perhatian yg memikat. Aku tertarik dengan daya pikatnya. Aku tak sanggup berpaling. Aku selingkuh. Selingkuh terang-terangan di depan matanya. Aku akan buat dia cemburu. Akan kubuat dia menyerah. Akan kupakai segala cara agar dia mau mengucapkan kalimat sakti itu. Lamaran.

Dia tahu aku menyakitinya, namun dia hanya diam saja. Dia tetap berpikir laki-laki itu hanya rekan kerja tanpa maksud terselubung. Dia tak mau mengucapkan kalimat itu. Kalimat yg amat aku tunggu. Aku gila dibuatnya. Aku sungguh tak tahu harus bagaimana lagi memaksanya. Memaksanya mengucapkan kalimat itu. Aku nekat. Aku akan mengeluarkan senjata terakhir ku. Putus.

Satu minggu telah lewat. Aku sudah melontarkan kata putus padanya. Dia masih singgah di kostku. Tak menyerah melepasku. Namun lamaran itu masih tak kudengar dari mulutnya. Setiap dia datang aku tak ingin melihat mukanya. Dia pulang tanpa bisa menjelaskan. Menjelaskan alasannya menunda kalimat itu. Aku kesal. Aku tak mau terima semua alasan omong kosongnya. Alasan yg hanya dibuat-buat.

Lama tak kulihat dirinya, aku rindu sosok diamnya. Lama tak kudengar kabarnya, aku rindu mata teduhnya. Lama tak kudengar suaranya, aku rindu tawanya. Lama, aku rindu padanya.
Aku mencari sosoknya. Aku mencoba menghubungi semua kenalannya. Aku bertanya segala hal tentangnya. Tak kusangka aku akan mendengar cerita itu. Cerita yg seharusnya menjadi ceritaku. Dia akan menikah. Menikah dengan seorg wanita yg baru dikenalnya setahun belakangan. Seorang wanita yg menjadi pelariannya ketika aku selalu menutup pintu kostku kala dia datang dulu. Seorang wanita yg tak pernah ku kenal sebelumnya. Dia akan menikah.

Seorang kenalan bilang betapa bodoh aku dulu. Seorang kenalan bercerita bahwa dia sedang mengumpulkan uang agar ketika menikah kami tak akan mengemis dengan orang tua sehingga orang tuanya yakin dan mengijinkan kami menikah. Sayang waktu itu aku tak sabar dan selalu menuntutnya hingga dia kebingungan. Dia menutup matanya ketika tahu aku memaksanya dengan cara memanfaatkan kebaikan seorang rekan kerja, perselingkuhan yang sebenernya menyakiti hatinya. Tapi dia tahu itu sebenarnya hanya salah satu akal-akalanku saja.

Kalau saja waktu itu aku mau mendengar penjelasannya. Kalau saja waktu itu aku mau membuka telingaku. Kalau saja waktu itu aku mau bersabar sedikit lagi. Kalau saja... Kalimat penyesalan tiada guna.

Dan disinilah aku berdiri sekarang. Menatap dia dan keluarga kecilnya dari kejauhan. Menyesali kebodohanku karena tak sabar menantinya sedikit lagi. Menangisi keputusan yg pernah kubuat. Berdiri terpaku tanpa seorang pendamping disisiku. Perihku melihatnya.

Ah, sudahlah. Lebih baik aku mendoakannya. Semoga dia mendapatkan yg terbaik. Semoga keluarga kecilnya bahagia selalu. Semoga dia tetap mengingatku dan kenangannya bersamaku. Semoga... Semoga aku bisa seperti dia.

Aku berbalik
Selamat tinggal masa lalu ku...

Saturday, November 5, 2011

Lakon Pecundang

Belum lama Bumi tertawa kencang. Ada apa dengannya? Pikirku.
"Hei, 1 tahun sudah berlalu & 1 tahun jg berkurang umurmu di sini. Lalu apa yg sudah kau kerjakan? Kau hanya menjadi penonton disaat semua orang berlakon. Mau jadi pecundang kau? Hahaha".
Apa? Pecundang? Hardik ku bergema.
"Kau lihat, semua orang sudah bergerak, berjalan, bahkan berlari. Memainkan perannya masing-masing. Kau? Hanya duduk disana, tak berbuat apa-apa. Menjadi penonton abadi. Atau lebih baik kau kupanggil pecundang abadi!"
Kurang ajar kau! Umpat ku tak digubrisnya.
Dan sekali lagi terdengar tawa kencang di telingaku, Bumi tertawa mengejek.
Sial!!

Thursday, November 3, 2011

Perjalanan [Rahasia] Kita

11 thn lalu, tak ada yg tahu irc room chat menjadi tempat bercanda kita

10 thn lalu, tak ada yg tahu gereja menjadi tempat kencan pertama kita

5 thn lalu, tak ada yg tahu kita merancang masa depan kita

4 thn lalu, tak ada yg tahu kita mewujudkan rencana kita

Tahun ini, tak ada yg tahu kita masih berjuang bersama mengatasi perbedaan di antara kita

Perjalanan ini masih panjang, pertempuran baru dimulai

Biarlah semua perbedaan perspektif membentuk satu jalinan tali merah persahabatan yg makin lama semakin kuat, hingga tak ada satu mata pisau pun yg mampu menyobeknya

Tak ada satu topan atau badai yg mampu melumpuhkan.

Teruntuk sahabat terbaik ku, Hindra Salim ~ 4th year of journey

Thursday, September 22, 2011

Salam Persahabatan

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengundang saya untuk datang ke pembukaan restoran miliknya. Jujur saja, saya sedikit merasa tersanjung dengan undangannya, karena sepengetahuan saya teman tersebut tidak banyak mengundang teman-teman saya lainnya. Disini saya sebut ia sebagai teman karena tampaknya tak pantas bagi saya untuk menyebutnya sebagai sahabat, disebabkan hubungan pertemanan kami yang tidak cukup akrab sehingga jika menyebutnya sahabat seperti mengharapkan sesuatu yang lebih dari dirinya, padahal belum tentu ia ingin berakrab-akrab dengan saya dan menyebut saya sebagai sahabatnya, jadi saya putuskan disini bahwa saya akan menyebutnya sebagai teman saja.

Dari penjelasan singkat tadi mungkin bisa ditangkap sedikit alasan ketersanjungan saya akan undangannya tadi. Hubungan pertemanan kami tidak terlalu akrab, bermula dari teman SMP sampai dengan SMU lalu berpisah di bangku kuliah, bertemu lagi beberapa pernikahan sahabat-sahabat kami dan berpisah lagi, lalu bertemu lagi di salah satu tempat fitness dan berpisah lagi, bertemu lagi di salah satu kedai kopi langganan kami dan kemudian berpisah lagi, bertemu lagi di seminar atau reuni sekolah dan berpisah lagi, begitu terus. Dan tiba-tiba saya mendapat undangan untuk pembukaan restorannya yang baru di daerah Jakarta Barat. Cukup tersanjung mendapatinya walaupun pada akhirnya saya tidak dapat menepati janji saya untuk datang ke acara pembukaan tersebut. Free Flow Beer yang dijanjikannya terpaksa saya lupakan karena banyak hal. Hal itulah yang membuat saya tidak berani untuk menyebutnya sahabat saya, takut nanti dikira saya terlalu ge-er, padahal dia sendiri hanya menganggap saya sebagai salah satu teman sekolahnya saja

Jujur saja, sebenarnya saya cukup kagum dengan jalan hidupnya, walaupun ada beberapa teman dan sahabat yang memandang tak suka padanya. Seingat saya, ketika duduk di bangku kelas 3 SMU ayahnya meninggal dunia, lalu menyusul ibunya ketika kami duduk di bangku kuliah. Saya menyempatkan diri untuk datang melayat sekaligus mencari tahu bagaimana nasib kehidupannya mendatang. Akan tinggal dengan siapakah dia? Apakah akan terus melanjutkan kuliahnya atau tidak? Darimana keuangannya akan mengalir? Kepada siapa dia akan mengadu kalau tertimpa bencana? Semua pertanyaan itu tidak pernah terjawab karena kami tak pernah bertemu lagi dan beberapa teman yang kehilangan kontak dengannya.

Sampai suatu ketika, selepas 2 tahun saya meninggalkan bangku kuliah, saya bertemu dengannya di salah satu tempat fitness yang terletak di salah satu mall besar di bilangan Jakarta Barat. Saat bertemu dengannya saya cukup canggung karena ketidakakraban satu sama lain, namun saya beranikan diri saja untuk mengajaknya bertukar cerita. Ternyata selama ini ia tetap kuliah sambil meneruskan usaha ayahnya di Bangka Belitung sekaligus menjadi orang tua bagi seorang adik perempuannya. Suatu siklus kehidupan yang cukup berat bagi seorang laki-laki berusia 21 tahun, usia yang bagi sebagian orang digunakan untuk bersenang-senang, bermain sepuasnya dengan orang-orang seumurannya, berpesta pora sampai pagi, mabuk-mabukan tak kenal waktu, menghabiskan uang jajan pemberian orang tuanya, namun hal itu tak mungkin baginya. Saat itu ia harus memilih antara menjadi seorang egois yang tetap memposisikan diri sebagai seorang anak muda dengan banyak keinginan atau menjadi seorang kakak sekaligus ibu dan ayah bagi seorang adiknya yang masih kecil dan melanjutkan perusahaan ayahnya demi membayar hidupnya dan adiknya. Pilihan yang sulit menurut saya, karena bagi saya, usia 21 tahun itu adalah usia dimana saya baru merasakan nikmatnya mengenal dunia pergaulan anak muda jaman sekarang, bersenang-senang dengan teman satu geng sampai larut malam, tidak usah bersusah-susah memikirkan akan makan apa besok, apakah bisa membayar gaji asisten rumah tangga bulan ini atau tidak, ketika kurang uang jajan maka akan menyodorkan tangan pada ayah saya.

Semua ketidakkhawatiran saya menjadi kekhawatirannya, namun ketika ia melihat adik perempuannya yang masih kecil dan membutuhkan kasih sayang seorang ayah dan ibu, ia pun bersemangat untuk merangkap pekerjaan ayah dan ibunya sekaligus menjadi kakak yang siap berbagi cerita serta keluh kesah. Sejak pertemuan itu, kami jadi lumayan sering bertemu di beberapa pernikahan teman dan sahabat kami. Dan sejak itu juga, saya menjadi lebih tidak canggung ketika bertemu dengannya.

Suatu waktu, saya mendapat berita darinya, ia mendapat rekan kerja seorang penilai makanan ternama Ibukota, ia akan membuka kedai makanan di Bali, dan voila, jadilah sekarang ia seorang pebisnis makanan. Mungkin karena merasa sudah lebih berhasil dibanding beberapa teman sepermainannya, membuat dirinya menjadi sedikit pongah dan berlagak. Tak sedikit dari teman dan sahabat saya yang memutuskan tidak ingin meneruskan pertemanan dengannya, karena tindak tanduknya yang sudah melebihi batas seorang yang sukses di usia muda. Mungkin baginya tak masalah teman-teman tersebut menjauhinya, sepertinya ia tak merasa rugi kehilangan teman-teman sepermainannya dulu. Dan sekarang, ketika ia sudah mandiri dan bisa membuka satu restoran lagi, sepenglihatan saya tak satu pun teman sepermainan kami mengucapkan selamat atas keberhasilannya, dan tak satu pun dari mereka diundang datang ke pembukaan restoran tersebut.

Bagi saya, memiliki seorang teman dan atau sahabat itu seperti memiliki asset penting perusahaan. Saya selalu berusaha memperlakukan teman dan atau sahabat seperti layaknya memperlakukan asset penting. Mengapa saya sebut asset penting, nanti saya jelaskan. Sebisa mungkin saya menyempatkan pertemuan-pertemuan dengan mereka, atau jika keterbatasan waktu maka tinggal tekan nomor telepon mereka maka perbincangan akan mengalir, atau jika pulsa tidak mengijinkan untuk melakukan panggilan maka ketik saja SMS. Dan satu hal lagi, nikmatnya hidup di jaman modern dan serba canggih ini, ngobrol dengan teman dan atau sahabat itu bisa dilakukan lewat dunia maya, social media yang bertebaran di dunia maya dulu hanya dapat diakses dari komputer sekarang ada dalam genggaman hingga mudah bagi saya untuk menyapa teman dan sahabat dari jauh sekalipun.

Sekarang saya jelaskan mengapa teman dan sahabat itu asset penting bagi saya, saya adalah seorang yang malas belajar, namun saya sangat suka membaca buku (kecuali buku pelajaran) dan "menguping" obrolan orang-orang di sekitar saya. Bagi saya, selain pengetahuan melalui buku-buku, obrolan orang-orang di sekitar itu adalah pelajaran buat saya, sehingga ketika terlibat dalam suatu obrolan dengan teman-teman dan sahabat-sahabat saya maka saya akan belajar banyak dari mereka. Seakan-akan teman-teman dan sahabat-sahabat saya adalah mata dan telinga saya yang bisa berkeliling dunia dalam berbagai waktu, lalu kembali ketika sudah mengumpulkan banyak informasi. Oleh sebab itu saya benar-benar menganggap mereka sebagai asset penting, karena tanpa mereka sepertinya saya menjadi buta dan tidak tahu apa yang melanda dunia saat ini. Dan karena itu juga lah saya benar-benar menjaga tali persahabatan dan pertemanan saya agar tidak terputus, karena saya tak ingin pengetahuan saya akan dunia terputus juga.

Entah bagaimana dengan para teman dan sahabat di luar sana, satu kalimat yang ingin saya ucapkan, Salam Persahabatan :)

Monday, August 22, 2011

Pasar Malam


Macet,
Motor parkir menutup jalan,
Mereka hilir mudik,

Memangku anak diatas motor,
Membelikan permen,
Menghibur dengan permainan,
Menyanyikan lagu-lagu dangdut khas jalanan,
Mencoba bermacam pakaian yang dijual,
Mencicip jajanan pinggiran,

Tangisan,
Tertawa,
Teriak senang,
Riuh suasana,
Jalanan ditutup,

Pasar malam,
Dan kemeriahan di dalamnya....

Friday, August 19, 2011

Kita Berhasil !!

Seorang sahabat pernah bertanya pada saya, "Tujuan lo ngerubah pola makan lo apaan sih?". Sebentar saya terdiam, mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Namun tampaknya apa yang saya ucapkan saat itu belum bisa mewakili apa yang ada di dalam hati saya. Seandainya saja sahabat saya itu saat ini membaca tulisan ini, tulisan sederhana yang bisa saya ungkapkan dengan lebih lugas perasaan saya sebenarnya. 

Saya sudah menikah kurang lebih 4 tahun. Saya amat menikmati perjalanan hari-hari kebersamaan saya bersama sahabat tak terpisahkan saya, walaupun tanpa seorang anak kecil yang mengiringi perjalanan itu. Saya tidak pernah berpikir banyak untuk memiliki seorang anak, hingga orang-orang di sekitar yang mulai meributkan dan bertanya-tanya segala hal soal anak. Awalnya tak satu pun pertanyaan itu yang mengganggu kehidupan saya dan suami, tapi lama kelamaan ratusan pertanyaan itu mulai mengganggu pikiran dan menguras energi serta kantong karena saya mulai mencari-cari dokter kandungan untuk meluluskan permintaan berlebihan dari mereka.

Sampai kemudian di satu titik saya mulai kehabisan kesabaran akan cobaan Sang Pemberi ini, saya mulai menyalahkan semua orang yang ada di sekitar saya termasuk suami. Saya menyalahkan karena ketidakberdayaannya dalam menangani masalah ini dan meredam semua omongan orang-orang di sekitar kami. Saya menyalahkan karena dia yang bermasalah, sedangkan saya tidak. Saya menyalahkannya atas segala hal yang terjadi. Menangis berpelukan dengan guling di dalam selimut saat malam hari menjadi kesenangan saya saat itu. Sampai kemudian saya bertemu seorang sahabat lain yang tinggal di negara yang amat jauh dari keluarga, dan ia begitu menikmati perjalanan kehidupannya yang hanya berdua dengan suami. 

Saya mulai berkaca, saya bertanya-tanya dalam hati saya, apa saja yang sudah saya lakukan untuk memiliki seorang anak? Jawabannya adalah, tidak ada! Saya hanya sibuk menyalahkan suami atas ketidaksanggupannya menyelesaikan masalah ini, namun saya tidak pernah mau melihatnya yang berupaya lebih keras dari saya untuk mewujudkan keinginan egois saya, memiliki seorang anak. Ia berusaha meminum semua vitamin dan supplement yang saya suguhkan di atas meja. Ia telan semua itu tanpa pernah bertanya apa saya sudah meminum semua vitamin serta supplement itu juga. Ia hanya tak ingin melihat saya meringkuk di dalam selimut bertemankan guling sambil menangis sejadi-jadinya tanpa mau mendengarkan saran-sarannya. Ia hanya ingin melihat saya tersenyum dan bahkan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuannya.

Sejak saat itu lah saya lalu mulai melakukan pencarian di berbagai media, mulai dari koran, majalah, buku kesehatan, googling, konsultasi dengan dokter kandungan, sharing dengan beberapa teman, sampai akhirnya saya menemukan hal baru. Keadaan fisik dan psikis seseorang bisa berdampak positif dan negatif untuk kehamilan. Saya mulai mendeteksi tubuh saya sendiri, kekurangan apa yang ada dalam diri saya yang perlu saya minimalisir agar bisa terjadi kehamilan. Saya mendapati kenyataan bahwa dalam historikal kesehatan keluarga saya ada yang berpenyakit jantung, kolesterol tinggi, darah tinggi, dan diabetes. Semua penyakit yang bisa menghambat kehamilan, bahkan jika sudah terjadi kehamilan maka akan membahayakan ibu dan bayinya. Saya mulai mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan 4 penyakit berbahaya tersebut, dan kesimpulannya adalah saya yang harus memulai memperbaiki pola makan saya agar saya bisa meminimalkan resiko terkena 4 penyakit penghambat kehamilan.

Saya memaksakan diri saya untuk bangun lebih pagi di hari libur untuk berolah raga, mulai mengganti makanan yang biasa saya makan, lalu Sang Petunjuk mempertemukan saya dengan seorang sahabat lama yang ternyata bekerja sebagai konsultan kesehatan. Ini dia, pikir saya saat itu, saya akan memberanikan diri saya untuk menghubunginya dan mencoba berkonsultasi dengannya. Saya ingin dengar apa pendapatnya mengenai temuan-temuan saya ini. Hingga kemudian pertanyaan di awal cerita ini terlontar darinya. 

Sekarang saya dengan berani menjawab pertanyaannya, "Karena gue teramat sangat ingin punya anak dan gue ga bisa cuma ngerengek pertanggungjawaban dari suami gue doang untuk masalah ini, gue harus memulai dari diri gue sendiri dengan cara merubah semua pola makan dan hidup gue. Setelah impian gue terwujud, gue akan dengan bangga bilang ke suami gue, KITA BERHASIL!!".




Thursday, August 18, 2011

Cerpen 4 - Menanti

"Hai Mer, apa kabar?" tanganku yang masih terulur hanya ditatapnya, ia pun berlalu dari hadapanku. Berlalu tanpa membalas uluran tanganku, hanya terdengar suara desahan halus kesal sambil berlalu. Aku tertegun, hatiku hampa, ku tahan air mataku agar tak tumpah di pesta itu.

Tahun-tahun di bangku kuliah itu tak akan pernah aku lupakan. Aku dan Mery bagaikan 2 orang sahabat yang tak dapat dipisahkan. Di kampus aku akan ada di sebelah Mery, makan di kantin Mery akan duduk di sampingku, sampai di kamar kost pun kami masih asik mengerjakan tugas kuliah bersama-sama. Mery mulai mengenalkan teman-temannya padaku. Kami akan bersenda gurau bersama, merencanakan jalan-jalan selepas jam kuliah, membelanjakan uang jajan yang tersisa, memimpikan bertemu dengan pangeran impian. Lalu tak pernah kusangka persahabatan tahunan itu kandas oleh hal sepele.

6 tahun lalu Mery mengenalkanku pada Roy, seorang laki-laki yang dikenalnya dari seorang teman yang lain. Roy adalah seorang pengusaha muda dari kota Padang. Ia pernah bersekolah di luar negeri. Pengalamannya tinggal lama di negara rantau membuatnya pintar bergaul. Perawakan Roy tidak terlalu tinggi untuk ukuran seorang laki-laki, bajunya diseterika rapi disertai aroma wangi di sekujur tubuhnya, selalu mengenakan sepatu kets bersih dan tali-talinya diikat dengan baik, raut wajahnya selalu bersinar-sinar, bibirnya menyunggingkan senyuman khas, tak banyak bicara namun pengetahuannya tak diragukan lagi. Tiba-tiba saja Roy menjadi topik Mery setiap kali ia mendatangi kamar kost ku. Aku hanya menjadi pendengar yang baik sambil sesekali melontarkan godaan padanya. Aku tahu betapa inginnya Mery memiliki Roy menjadi pacarnya, walaupun aku tahu belum terjadi apa-apa dengan mereka berdua tapi aku sungguh berharap mereka akan berpacaran dan kemudian bisa menikah. Aku sungguh mengharapkan yang terbaik bagi sahabatku itu.

6 tahun lalu pula aku pergi ke Beijing untuk memperdalam bahasa China disana. Aku meninggalkan sahabat-sahabatku di Jakarta termasuk Mery dan segala cerita cintanya dengan Roy. Aku berjanji akan membawa pulang semua cerita mengenai kehidupan sekolah ku disana termasuk cerita cintaku. Kami kerap bertukar cerita melalui email dan facebook, Mery masih setia dengan cerita cintanya dengan Roy, masih belum ada kelanjutan yang berarti dari hubungan tanpa status itu. Roy masih terkesan tak menganggap Mery layaknya kekasih, ia hanya menganggap hubungan itu adalah hubungan pertemanan biasa saja. Mery tampak putus asa dengan tingkah laku Roy yang seakan-akan mempermainkannya saja. Aku sebagai sahabat harus terus memberikan semangat dengan berbagai cara. 

5 tahun lalu kakak ku akan mempersiapkan pernikahannya, aku akan dipanggil mami pulang ke Indonesia untuk membantu semua persiapan. Aku mencoba menawar ke mami, meminta ijinnya memperbolehkanku tinggal disana hingga tahun depan. Tahun itu aku tidak jadi kembali ke Jakarta, mami meluluskan permintaanku karena kakak ku menetapkan tanggal pernikahannya 2 tahun lagi.

4 tahun lalu aku harus kembali ke Jakarta, mami tak memberikan tawaran untukku memperpanjang masa belajarku lagi. Kakak ku memerlukan bantuan ku untuk persiapan pernikahannya. Aku mempersiapkan kepulanganku ke Jakarta. Aku packing semua baju-baju yang akan aku bawa. Merantau di negara 4 musim mengharuskan ku memiliki banyak sekali baju sehingga baju-baju itu perlu aku pilih mana yang akan dibawa kembali ke Jakarta dan mana yang akan ditinggalkan di Beijing. Aku akan kembali bertemu dengan para sahabatku termasuk Mery, yang kuharap akan mengenalkanku sekali lagi pada Roy sebagai pacarnya. Namun ternyata Mery belum melanjutkan hubungan tanpa status itu ke jenjang yang lebih tinggi. Ia masih setia diperkenalkan sebagai "teman". Sekali lagi aku bertemu Roy, kali ini ia meminta nomor ponsel ku.

3 tahun lalu aku mencoba menceritakan hal ini pada Mery, aku ungkapkan semua tentang kami. Aku tak mau Mery menganggapku sebagai penghianat. Aku tak pernah menyangka bahwa ketika Roy meminta nomor ponsel ku itu dia sedang penjajakan mencari seorang istri. Dan aku tak pernah tahu bahwa Roy mencantumkan namaku di daftar pencalonan istrinya. Selama beberapa tahun itu Roy berkeliling di seputar Mery, aku dan beberapa teman-temanku untuk memastikan siapa yang akan dipilihnya. Selama ini Roy memang hampir selalu melakukan hubungan jarak jauh dengan Mery, namun itu hanya sebatas pertemanan biasa saja. Menurutnya Mery sebagai seorang teman terlalu banyak menuntutnya melakukan ini dan itu, membuatnya menjadi jengah untuk melanjutkan hubungan pertemanan itu ke jenjang berikutnya. Ketika aku pulang ke Jakarta, Roy seperti mendapatkan pencerahan setelah lelah berputar-putar mencari alasan menghindari Mery. Roy aktif menelepon ku setiap malam, kami bercerita segala hal. Roy mencari-cari alasan agar bisa mengunjungiku setiap 2 minggu sekali. Roy rela terbang dari Padang hanya untuk berkeliling Jakarta dengan ku. Roy tak pernah memintaku menjadi pacarnya, tapi ia memintaku menjadi istrinya. Mery marah besar, baginya aku bagaikan musuh dalam selimut. Berani merebut laki-lakinya. Hubungan pertemanan kami terputus kemudian. Kandas karena hal sepele, laki-laki.

2 tahun lalu aku dan Roy mengikat janji di hadapan Tuhan, sebelum ikatan itu dikukuhkan sekali lagi aku menghubungi Mery, memintanya datang untuk mendoakan pernikahan ku dan Roy. Namun aku harus menelan kekecewaan lagi karena penolakan Mery. Tak satupun telepon, SMS, email, message di facebook yang dibalasnya. Aku sedih, tak tahu harus berbuat apa lagi agar Mery mau memaafkan kesalahan yang bukan aku inginkan terjadi. Aku minta bantuan Roy untuk membujuknya, Roy hanya berkata "Untuk apa kau terus mengejarnya, padahal ia sendiri tak mau kau kejar. Kau hanya menghabiskan energi dan waktumu saja. Biarlah kalau memang ia tak mau, tak perlu kau kejar lagi". Aku mencoba mencari pandangan lain dari kakak dan kakak ipar ku, mereka pun berkata yang sama dengan Roy. Maka dengan berat hati aku melepaskan persahabatanku dengan Mery dan melangkahkan kaki ke Altar pernikahan ku.

1 tahun lalu anak ku melihat dunia untuk pertama kalinya, ia melihat aku sebagai mamanya dan Roy sebagai papanya. Kehadiran anak ku membuatku semakin lupa dengan Mery, sampai kemudian aku mendapat kabar ia akan menikah. Sungguh senang aku mendengarnya. Aku mencari tahu tentang pernikahannya melalui beberapa teman kuliah ku dulu. Beberapa yang masih berhubungan baik dengan ku akan bercerita panjang lebar mengenai kehidupan Mery setelah aku dan Roy menikah. Aku senang Mery telah menemukan pasangannya. Sekali lagi aku akan mencoba menghubunginya, mudah-mudahan saja ia mau membalas sapaan ku dari dunia maya, mudah-mudahan ia sudah melupakan semua perdebatan kami.

Hari ini aku diundang ke pesta pernikahan seorang teman kuliah. Aku menggendong anak ku dan Roy berjalan di sebelahku. Dari kejauhan aku melihat Mery, ia masih seperti dulu, rambutnya masih panjang bergelombang, badannya masih langsing, kulitnya masih putih mulus, make up yang dipakainya masih sederhana, masih terlihat segar di mataku. Itu Mery yang ku kenal. Aku berjalan ke arahnya, dengan tersenyum aku hampiri ia, aku ulurkan tanganku sambil menyapanya, dan kemudian disinilah aku termangu karena ditinggalkannya dengan muka keras tanda tak senang. Roy menghampiri ku, memeluk ku, dan mengajakku menjauh, meninggalkan hingar bingar pesta malam itu.